Makassar Indie

Tentang Kisah yang Terlantun dan Keintiman Tanpa Batas di Sebar Kisah #1 Theory of Discoustic

Iklan
Penampilan Theory of discoustic di sebar kisah #1

Jarum jam sebentar lagi akan menuju pukul jam 8 malam saat motor yang saya kendarai melaju lambat meelewati deretan pertokoan yang berjejer rapi disamping sebuah spot kuliner dan hiburan yang berada tepat didepan Benteng Rotterdam, Makassar. Malam itu (10/3/2017), saya bersama keluarga lengkap –istri dan kedua jagoanku- mencari-cari sebuah kafe yang dijadikan sebagai venue helatan unjuk karya terbaru dari album teranyar bertajuk La Marupe’ milik band asal Makassar, Theory of Discoustic (ToD).
Seingat saya dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu, ToD menungkapkan jika mereka tidak akan membuat serupa helatan khusus launching (rilis) album. Sebaliknya, perkenalan delapan karya di La Marupe’ akan dihelat secara sederhana di beberapa tempat dipenjuru Makassar dengan tajuk Sebar Kisah. Menurut beberapa personil ToD, konsepnya seperti mendatangi suatu tempat dan bercerita melalui lagu. Dan untuk Sebar Kisah #1 diadakan di La.KU, sebuah kafe yang berada di bilangan Jalan Ujung Pandang yang terletak disamping seberang jalan Gedung RRI.
Motor yang saya kendarai masih melaju lambat didepan salah satu deret pertokoan dan melihat kumpulan orang dan set alat musik lengkap diatas sebuah panggung sederhana. Saat melihat sekilas set musik lengkap tersebut berada diluar kafe, saya langsung menganulir perkiraan awal saya bahwa helatan ini akan diadakan didalam kafe. Selanjutnya, saya tersenyum tak sabar menjadi bagian dari pertunjukan dan semua keseruan yang pasti tak biasa malam itu.
Motor telah terparkir tak terlalu rapi di sebuah area parkir dua blok dari venue saat saya disapa dan berjabat tangan dengan Kikoy, drummer Firstmoon lalu kemudian kami bergabung bersama beberapa orang yang lebih dulu berada didepan panggung. Beberapa dari mereka terlihat sedang terlibat dalam pembicaraan diselingi canda tawa dan senda gurau, beberapa yang lain minikmati
jajanan gogos (makanan khas Bugis Makassar menyerupai lemper) plus telur rebus yang
dijajakan seorang penjual gogos keliling dengan sepedanya. Bisa jadi si penjual ini kebetulan lewat dan memilih mampir karena adanya kerumunan.
Seperti biasanya, helatan musik sederhana seperti Sebar Kisah ini akan memang menjadi serupa momentum silaturahmi dengan banyak teman-teman band atau mereka yang sejak dulu selalu setia merayakan dan mungkin (sekalian) menangisi akhir pekan di panggung-panggung musik intim nan akrab. Selain bersilaturahmi, helatan mikro seperti ini biasanya akan mempertemukan saya dengan banyak kabar bahagia. Project kolaborasi musik, album baru yang sedang dikerjakan, gigs yang masih “coming soon” atau banyak kemungkinan bekerjasama lainnya biasanya akan menjadi warta yang menyebar sepanjang helatan berlangsung.
Dan benar saja, saat hendak merangsek ke area depan dua deret ruko tempat helatan malam itu mengikuti ketiga partner nonton konser saya malam itu, saya sudah “dicegat” oleh Tesa, personil Clementine cum dokter gigi favorit keluarga kami cum jurnalis sebuah portal media online yang kini menetap di Jakarta. Ia bercerita tentang nasehat sekaligus tips dari seorang jurnalis musik disebuah portal berita nasional ternama agar band “daerah” bisa masuk pasar nasional, kisah dibalik pelaksanaan konferensi musik Indonesia yang dihelat di Ambon, dan ajakan untuk datang ke acara peluncuran album teranyar band-nya di awal April.
Sambil tetap memperhatikan Tesa, beberapa teman juga menghampiri termasuk dua personil ToD yang malam itu sebentar lagi akan menampilkan lima lagi dari La Marupe’. Sebelum Fadli yang menjadi pembetot bass sekaligus vokalis di ToD, ada Echa yang malam itu merespon keresahan saya karena jatah beberapa keeping CD La Marupe’ belum juga sampai ke Tamalanrea, tempat Kedai Buku Jenny berada.
Di sela momentum keakraban sebelum helatan dimulai, perhatian saya teralihkan oleh suara alunan sinrilik –alat musik petik tradisional khas Bugis-Makassar- yang diputar dari laptop milik salah satu personil ToD dan melantun kentara dari deretan sound system di area panggung.  Sesaat kemudian, saya merasa jika suara sinrilik dan pencahayaan minim yang hanya mengandalkan lampu dari dalam kafe mewujud menjadi suasana yang sepertinya sengaja diciptakan sebagai “pintu masuk” menuju keintiman dan kesederhanaan di Sebar Kisah dan tentu di La Marupe’. Dan saya semakin tak sabar diajak serta masuk kedalam skenario intim dan sederhana malam itu.
Sesaat kemudian saya meninggalkan Tesa dan menuju salah satu bangku yang disediakan untuk penonton di sebelah kanan panggung dimana istri dan kedua anak saya berada. Kami bertiga memilih untuk menyantap gogos dan telur masak yang dibeli dari si bapak penjual jajanan keliling yang sepertinya malam itu jualannya laris manis sambil memperhatikan personil ToD yang memastikan semua alat siap untuk pertunjukan malam itu.
Semakin malam, area pertunjukan semakin dipadati pengunjung. Beberapa teman yang sebelumnya masih berada diluar area ruko terlihat mulai merapat ke bibir panggung. Hingga semua personil ToD telah siap diatas panggung, penonton semakin memadat hingga pinggir jalan raya. Beberapa wajah yang saya kenal ada diantara mereka yang tidak bisa lagi berada di dekat panggung.
Jam di ponsel saya telah berlalu dari pukul 8 malam belum lama saat lagu pertama membuka Sebar Kisah tanpa pengantar dari pembawa acara. Suasana magis mulai terasa saat To Manurung, nomor ketujuh di album La Marupe’ mengalun. Suara yang khas dari Dian, sang vokalis ToD yang malam itu mengenakan sarung sebagai bawahan, membawa kami lebih dalam ke kisah-kisah yang tertata rapi di La Marupe’ setelah beberapa minggu sebelumnya band ini menyebarkan secara bebas lagu berjudul Badik melalui website resmi Theory of Discoustic.
Tepukan tangan bergemuruh saat nomor pertama berakhir dan diikuti tuturan cerita dari Dian tentang lagu To Manurung yang baru saja terlantun. Dan semua lagu yang dibawakan ToD malam itu selalu diselingi sebar kisah dan cerita dibalik masing-masing lagu oleh Dian.To Manurung sendiri bercerita tentang mitos mahluk yang turun dari kayangan yang meliputi sejarah kerajaan di Sulawesi Selatan.
Meski tak tertera di setlist, Tabe’ yang menjadi lagu pembuka di La Marupe’ menjadi lagu kedua yang dibawakan oleh Fadli yang malam itu berkemeja putih panjang plus tutup kepala serupa kupluk khas. Lirik lagu yang menggunakan bahasa Makassar ini dibawakan begitu fasih dan bersemangat oleh Fadli yang memang berdarah asli Makassar. Lagu ini dibawakan bersemangat dengan hentakan-hentakan khas Makassar yang bergelombang mendayu tanpa kesan layu dan lemah. Lagu ini bercerita tentang pelaut Makassar yang menyampaikan permohonan izin dan penghormatan dengan gerakan sambil mengucapkan tabe’ kepada suku Yolngu, Aborogin di pesisir utara Australia.

 

Setlist La Marupe “Sebar kisah #1”

Suasana magis langsung menyeruak saat Makrokosmos dilantunkan di lagu berikutnya. Lagu ini mewujud seperti doa-doa yang terpanjat kepada Sang Maha Segala. Lagu ini menurut Dian, bercerita tentang ritual suku Bugis yang disebut menre’ bola beru. Ritual ini berisi permohonan doa kesehatan dan keselamatan sebelum mendiami rumah baru. Selanjutnya berturut-turut lagu Tanah Tua yang berisi kisah kesederhaan Suku Kajang yang disimbolisasi dengan pakaian serba hitam, dan lagu Janci yang berkisah tentang mitos To Manurung dan janjinya untuk menjaga, memelihara, dan memuliakan siri’ (kehormatan) penguasa dan rakyatnya.
Sebar Kisah ditutup dengan lagu Badik. Lagu ini lebih akrab ditelinga para pengunjung bukan hanya karena materinya telah tersedia dan bebas diunduh melalui website ToD, tapi juga karena badik dan ritual menyelesaikan masalah dengan menggunakan badik dalam duel satu sarung yang biasa dikenal dengan Sigajang Laleng Lipa’ (Bugis) atau Sitobo’ Lalang Lipa’ (Makassar) memang begitu tersohor hingga ke generasi masa kini. Meski bisa jadi seperti banyak ritual, tak begitu banyak lagi yang memahami nilai dibaliknya.
Seperti janjinya, ToD memang hanya akan membawakan sebagian lagu di album La Marupe’ meski beberapa penonton berteriak lirih meminta band itu membawakan beberapa lagu lagi. Pertunjukan berakhir dengan tepuk tangan meriah dari penenoton serta uluran tangan terima kasih dari para personil ToD kepada para penonton.
Meski pertunjukan telah berakhir, tapi kesbukan masih nampak dari dalam dan luar La.Ku. Dari dalam kafe, beberapa orang meminta tanda tangan dari personil ToD di CD Album La Marupe yang baru saja mereka beli, beberapa yang lain meminta untuk pose bersama dengan para personil ToD. Di luar, terlihat beberapa yang sebelum pertunjukan berkumpul kembali membuat lingkran yang lebih besar karena beberapa teman lain yang baru datang mulai bergabung. Suara tawa karena canda dan gurauan ada dimana-mana dalam seketika. Suasana keintiman dan silaturahmi kembali terasa.
Saya sendiri memilih segera menghampiri panggung saat helatan benar-benar selesai dan menunaikan ritual setelah helatan musik selesai. Yup, berburu setlist. Bagi saya seperti itulah salah satu bentuk apresiasi terhadap karya band yang kita senangi. Sayangnya kali ini saya tidak menemukan sensasi “berburu” seperti biasa karena tak ada adegan rebutan setlist. Setelah berhasil mendapatkan tanda tangan semua personil ToD di setlist yang dengan mudah saya dapatkan itu, kami berempat ikut bergabung dengan beberapa teman lain bercerita ini itu sebelum akhirnya kami pamit pulang.

****

Dari Sebar Kisah saya belajar bahwa kota ini tak akan pernah kekurangan inisiatif untuk
menyuguhkan ruang presentasi karya yang memungkinkan siapa saja menjadi pendengar sekaligus apresiator atau mungkin kritikus dengan cara-cara yang akrab dan berselera. Dan dari La Marupe’ saya semakin yakin jika kita masih punya energi untuk menjadi pencerita tentang kebaikan-kebaikan di sekitar kita dengan cara yang kita senangi.

Selamat Theory of Discoustic.

Oleh: Zulkhair Burhan
Wesabbe, 16 Maret 2018

Iklan

Iklan